Kendala Dalam IFRS

Sejarah dan pengertian IFRS

      Kemajuan teknologi informasi saat ini membuat masyarakat di berbagai belahan dunia begitu mudah untuk berkomunikasi dan berinteraksi tanpa ada batas wilayah Negara atau biasa kita sebut globalisasi, termasuk dalam interaksi dalam bidang keuangan (dagang dan berinvestasi).

      Dampak globalisasi yang semakin kuat dan berimbas kepada pasar-pasar investasi (seperti pasar modal) membuat pihak yang terlibat berupaya untuk mempermudah dan menyeragamkan bahasa dalam berinvestasi (bahasa pelaporan keuangan dan standar keuangan). Standar pelaporan keuangan dan standar akuntansi haruslah standar yang dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat global. Sehingga diperlukan standar yang sama di seluruh dunia.

      International Accounting Standard (IAS) atau yang lebih dikenal sebagai International Financial Reporting Standard (IFRS), merupakan standar pelaporan keuangan internasional yang menjadi  rujukan atau sumber konvergensi bagi standar-standar akuntansi di Negara-negara di dunia yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board (IASB) pada 1 April 2001. Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).

Konvergensi Indonesia ke IFRS

      International Financial Reporting Standards (IFRS) merupakan kesepakatan global standar akuntansi yang didukung oleh banyak negara dan badan-badan internasional di dunia, karena itu pada bulan Desember 2008, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mencanangkan konvergensi PSAK ke IFRS secara penuh pada tahun 2012.

Namun adapun kendala adopsi penuh IFRS di Indonesia adalah :

1.  Kurang siapnya infrastuktur seperti DSAK sebagai Financial Accounting Standart Setter

DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan) perumus SAK yang ada di Indonesia. Pada prakteknya mendapatkan berbagai macam kritik. Diantaranya adalah minimnya partisipasi dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam setiap exposure draft hearing PSAK yang baru akan diberlakukan. Padahal untuk dapat di “cap” kualitas generally accepted accounting principle / GAAP adalah harus melewati tahapan-tahapan yang diantaranya melibatkan seluruh stakeholder yang terlibat.

2.  Kondisi perundanga-undangan yang belum tentu sinkron dengan IFRS

Regulasi yang berkaitan dengan standar akuntansi dan pelaporan keuangan di Indonesia tidak begitu jelas. Terdapat banyak perundang-undangan yang kurang mendukung terhadap standar akuntansi dan pelaporan keuangan.

3.  Kurang siapnya SDM dan dunia pendidikan di Indonesia

IFRS hanyalah alat untuk mencapai kemudahan dalam berinvestasi. Yang akan menggunakan dan mengoptimalkan alat tersebut tidak lain tidak bukan hanyalah manusia itu sendiri meskipun akan sedikit di bantu dengan teknologi informasi. SDM di Indonesia haruslah dapat memahami dengan baik apa itu IFRS. Tentunya SDM-SDM yang berhubungan langsung dengan laporan keuangan baik praktisi, pemerintah, hingga akademisi.

 

Sumber :

http://akuntansiuny.blogspot.com/2011/04/ifrs.html

http://mialolyta.blogspot.com/2011/04/konvergensi-psak-ke-dalam-ifrs.html

http://blog-punyaelin.blogspot.com/2011/05/dampak-ifrs-terhadap-pelaporan-keuangan.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: